Jangan Self-Diagnose, Mahasiswa Perlu Paham Perbedaan Stres Akademik dan Depresi
Tekanan akademik menjadi bagian yang hampir tidak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa. Mulai dari tugas yang menumpuk, jadwal ujian, tuntutan nilai tinggi, hingga tekanan organisasi sering membuat mahasiswa merasa stres dan kelelahan. Namun, penting untuk memahami bahwa stres akademik biasa berbeda dengan kondisi depresi yang membutuhkan bantuan profesional.
Psikolog Dr. Frida Medina Hayuputri menjelaskan bahwa stres akademik umumnya bersifat sementara dan akan mereda setelah sumber tekanan selesai. Misalnya, mahasiswa merasa cemas dan tertekan saat menghadapi UTS atau tugas besar. Namun setelah ujian selesai, kondisi emosional biasanya kembali normal dan mahasiswa dapat kembali menjalani aktivitas seperti biasa.
“Kalau stres akademik biasa, setelah ujian selesai biasanya perasaannya membaik dan bisa kembali beraktivitas normal,” jelas Dr. Frida.
Berbeda dengan itu, Major Depressive Disorder (MDD) atau gangguan depresi mayor memiliki kondisi yang jauh lebih dalam dan berlangsung lebih lama. Seseorang yang mengalami depresi tetap merasa sedih, kehilangan semangat, dan kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari meskipun sumber stresnya sudah selesai.
Dr. Frida mencontohkan bahwa mahasiswa yang mengalami depresi cenderung menarik diri dari lingkungan sosial, tidak ingin bertemu orang lain, kehilangan motivasi kuliah, hingga mengabaikan kebutuhan dasar seperti makan dan mandi. Bahkan, kondisi tersebut bisa berlangsung selama berhari-hari dan mulai mengganggu kehidupan akademik maupun sosial.
Menurutnya, kondisi seperti ini tidak boleh dianggap sepele. Ketika seseorang mulai mengalami gangguan aktivitas sehari-hari akibat kondisi emosional yang berkepanjangan, maka sudah waktunya mencari bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater.
Selain itu, Dr. Frida juga mengingatkan mahasiswa agar tidak takut mencari pertolongan karena khawatir mendapat stigma negatif dari lingkungan sekitar. Ia menegaskan bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.
“Kalau patah tulang kita pergi ke dokter, begitu juga ketika mental kita sedang sakit atau terluka, kita perlu datang kepada ahlinya,” ujarnya.
Masih banyak mahasiswa yang merasa pergi ke psikolog adalah tanda kelemahan atau sesuatu yang memalukan. Padahal, mencari bantuan profesional justru merupakan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri dan langkah untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Dalam wawancara tersebut, Dr. Frida juga mengingatkan mahasiswa agar tidak melakukan self-diagnose berdasarkan informasi di media sosial atau komentar netizen. Menurutnya, diagnosis kondisi mental sebaiknya dilakukan oleh tenaga profesional yang memang memiliki kompetensi di bidang kesehatan jiwa.
Fenomena curhat di media sosial tanpa mendapatkan pendampingan yang tepat sering kali membuat kondisi mental seseorang semakin memburuk. Karena itu, mahasiswa dianjurkan untuk lebih bijak dalam mencari bantuan dan tidak ragu berkonsultasi dengan psikolog maupun psikiater ketika merasa kondisi mentalnya mulai terganggu.
Melalui pemahaman yang tepat tentang kesehatan mental, mahasiswa diharapkan dapat lebih peduli terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar. Sebab, menjaga kesehatan mental bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian penting dari upaya menjalani kehidupan yang sehat dan seimbang.

English