JAKARTA, 13 September 2026 — Kebiasaan mengakses media sosial yang kerap dimulai dengan niat singkat—seperti ungkapan populer “Cuma 5 menit…”—sering kali berujung pada hilangnya waktu hingga berjam-jam tanpa disadari (“Tapi tahu-tahu sudah 1 jam”). Fenomena psikologis di balik kebiasaan menggulir layar (scrolling) ini kian mendapat sorotan tajam di tengah masifnya konsumsi konten digital harian masyarakat modern.
Melalui kampanye edukasi literasi digital, Lembaga Pendidikan Tinggi Y.A.I (UPI Y.A.I & STIE Y.A.I) membedah alasan utama mengapa seseorang sulit berhenti scrolling. Berdasarkan analisis perilaku digital, dorongan tersebut bukan sekadar disebabkan oleh konten yang menarik semata, melainkan rasa penasaran yang konstan terhadap apa yang akan muncul berikutnya (“Habis ini apa, ya?”).
Proses ini membentuk Siklus Scrolling yang digerakkan oleh mekanisme reward (kepuasan/hiburan):
1. Scroll (Menggulir): Pengguna mulai menggulir layar HP.
2. Konten Baru: Menemukan variasi konten—mulai dari yang biasa saja, lucu, menarik, hingga konten yang terasa sangat personal (“Wah, ini gue banget!”).
3. Reward (Pengalaman Menyenangkan): Setiap menemukan konten menarik, otak mendapatkan sensasi menyenangkan.
4. Scroll Lagi: Sensasi tersebut memicu dorongan bawah sadar untuk mencoba sekali lagi (“Coba lihat satu lagi…”).
Ketidakpastian variasi konten inilah yang membuat pengguna terus-menerus ingin menggulir layar tanpa henti.
Di tengah era banjir informasi dan ekosistem digital yang serba cepat, akademisi dan praktisi kesehatan mental mengimbau masyarakat, khususnya kalangan generasi muda (Gen Z), untuk mulai menerapkan literasi digital yang bijak. Pengendalian diri terhadap durasi penggunaan gawai (screen time) serta kesadaran saat berselancar di dunia maya menjadi kunci utama agar aktivitas scrolling tidak menyita waktu produktif harian tanpa disadari.

English